oleh: Syaripudin
Ketika pertama kali mendengar bahwa ada bank syariah, saya langsung ingin membuka rekening tabungan. Maklum, selama ini saya tidak pernah memiliki rekening di bank manapun. Saat itu, saya mulai masuk kerja hanya beberapa saat sebelum kerusuhan Mei 1998 meletus. Saya ingat betul ketika huru-hara meletus, semua kendaraan umum tidak beroperasi. Dari tempat kerja di Kawasan Industri Pulogadung, saya berjalan kaki hingga UKI. Dari sini tidak ada bis jurusan Bogor yang biasanya berderet-deret itu. Terpaksa naik angkutan kota ke Kampung Rambutan. Di terminal pun tidak ada bis jurusan Bogor. Akhirnya beramai-ramai jalan kaki ke jalan tol Jagorawi dan mencegat bis jurusan Bandung untuk turun di Ciawi sebelum melanjutkan dengan angkutan kota ke kota Bogor.
Dua bulan setelah gejolak reformasi, saya mendatangi kantor Bank Muamalat Indonesia (BMI) di Sudirman. Itu satu-satunya bank syariah yang ada. Saya membuka tabungan yang dilengkapi dengan KartUkhuwah, sebuah ATM yang disinergikan dengan program infaq Dompet Dhuafa Republika. Saya adalah satu-satunya karyawan di PT Mahakam Beta Farma (Betadine) yang menggunakan account bank syariah. Kepada HRD saya bersikeras agar menerima account BMI karena tidak mau terkena bunga, sementara kebijakan manajemen mengharuskan account Bank Niaga. Karena alasannya spiritual, maka manajeman memahaminya walau itu satu-satunya transfer gaji yang tidak otomatis (karena harus disetor tersendiri).
Sepanjang saat BMI sebagai satu-satunya bank syariah, saya setiap minggu naik bis kota Pulogadung – Blok M yang melewati BMI. Pernah beberapa kali ATM BMI tidak bisa mengeluarkan uang; sehingga saya harus bolak-balik Pulogadung – Arthaloka Sudirman. Bukan sekali dua kali, saya harus gigit jari tidak mendapatkan uang karena ATM off line atau alasan-alasan lain yang sepenuhnya tidak saya mengerti. Pernah saking minimnya uang cash di tangan, makan malam hanya sebuah bakpau rasa kacang hijau yang dibeli di bawah jembatan penyeberangan di depan kantor BMI. Karena kebetulan tinggal di mess kantor di belakang pabrik, dengan hanya uang tersisa untuk ongkos Arthaloka – Pulogadung, tidak masalah. Kemudian dari pintu gerbang kawasan jalan kaki ke mess pabrik.
Ketika Bank Syariah Mandiri mulai beroperasi, saya membuka rekening di Carefour (dahulu Continent) Cempaka Putih. Kebetulan pas lagi jalan-jalan, ada counter BSM di depan Carefour. Pertimbangan saya waktu itu adalah kartu ATM BSM dapat dipergunakan di jaringan ATM Bank Mandiri. Jadi saya bisa menghindarkan diri dari bolak-balik Pulogadung – Arthaloka Sudirman serta kenestapaan jika ATM BMI ‘ngadat’. Alhamdulillah, karena jaringan ATM Bank Mandiri cukup banyak di seputar Pulogadung, saya terbebaskan dari kesulitan teknis pengambilan uang. Itu artinya cash-flow saya tidak merepotkan.
Yang sangat menarik adalah ketika saya ingin mengalihkan account BMI sebagai alamat tujuan pembayaran gaji saya ke Niaga Syariah. Ketika saya mendengar bahwa Bank Niaga memiliki pelayanan syariah memang saya ingin mengalihkannya agar saya tidak harus menarik tunai gaji saya di BMI untuk kemudian saya pindahkan ke BSM. Nah, setelah saya mendapatkan penjelasan dari Bank Niaga Syariah bahwa aplikasi bisa didapatkan di seluruh cabang Bank Niaga, segera saya mendatangi cabangnya di dalam Kawasan Industri Pulogadung. Lucunya, malah salah seorang staf customer service Bank Niaga cabang Pulogadung terheran-heran dengan ‘kengototan’ saya membuka rekening syariah.
Sebagai karyawan yang sudah berumur, pernah naik haji serta berjilbab, ibu itu heran kenapa saya hanya mau buka rekening syariah. Katanya, form aplikasinya syariah belum ada jadi harus menunggu dulu dikirim dari pusat. Sudah itu, kembali menunggu kartu ATM-nya yang memang dibuat di kantor pusat. Saat itu, malah saya yang mengajari dan meyakinkan beliau akan pentingnya peran bank syariah dalam kehidupan seorang muslim. Bukannya saya yang mendapatkan penjelasan tentang apa itu bank syariah dan perbedaannya dengan bank konvensional, malah pegawai Bank Niaga yang saya ‘kuliahi’. Lucu sekali bukan?
Itulah beberapa kejadian yang sangat berkesan, lucu, dan penuh perjuangan dalam berinteraksi dengan bank syariah. Belum lagi perdebatan-perdebatan yang berkepanjangan tentang pendapat teman-teman yang mengatakan bahwa tidak ada bedanya antara bank berbasis bunga dengan bank syariah. Belum lagi tangkisan-tangkisan dari mereka yang berpendapat miring tentang mekanisme operasional bank syariah. Bahkan hingga kini, tetap saja ada orang Islam yang menguasai ilmu-ilmu Islam masih berpendapat miring tentang praktik bank syariah. Tapi ya … itu, sejak kapan mengusung kebenaran sepi dari para pencaci dan penghasut. Semoga para pelaku bank syariah semakin tabah, tegar, dan tetap ikhlas. Amiiin.

